Hi, guest ! welcome to Berita Bone. | About Us | Contact | Register | Sign In

Diberdayakan oleh Blogger.

SELAMAT DATANG DI BRITA BONE

Minggu, 05 Mei 2013

Menelusuri Kronologis Perjanjian " Tellumpoccoe "


PDF Cetak E-mail



 Tiga Batu Yang Ditancapkan Oleh Masing-masing perwakilan Raja BOWASO
BOSOWA merupakan akronim tiga nama daerah Bugis yakni BONE, SOPPENG dan WAJO yang telah berabad-abad menjalin persaudaraan pada masa kerajaan. Sebenarnya kalau merujuk dari perjanjian tellumpoccoe yang benar adalah BOWASO (Bone, Wajo, Soppeng)

Dalam catatan lontara' Bugis dijelaskan bahwa pada masa Bone dibawah pemerintahan Raja Bone ke-7 La Tenrirawe Bongkangnge (1544-1574) beberapa kali mengalami bencana perang yang didalangi oleh pihak Gowa dan Luwu. Walaupun Bone selama itu selalu unggul , namun dapat dimaklumi bahwa Bone menderita kerugian harta benda dan sumber daya manusia (SDM) serta kehidupan  sosial budaya.

Untuk memperkuat kedudukan Bone sebagai suatu kerajaan yang tangguh, La Tenri Rawe menjalin hubungan kerja sama dengan Arung Matowa Wajo yang bernama To Uddamang. Begitu juga dengan Datu Soppeng yang bernama Lamappaleppe PollipuE Datu Soppeng. Maka diadakanlah pertemuan di Cenrana untuk memperkuat hubungan antara Bone, Soppeng dan Wajo.

Adapun kesepakatan yang diambil di Cenrana adalah ketiganya akan mengadakan pertemuan lanjutan di Timurung Bone Utara tahun 1572 M. Setelah sampai pada waktu yang telah ditentukan, maka berkumpullah orang Bone, orang Soppeng, dan orang Wajo di suatu tempat yang bernama Bunne Timurung sekarang bernama desa Allamungeng Patue kecamatan Ajangale. Upacara pembentukan zona Triple Alliance tersebut dihadiri oleh delegasi-delegasi dari tiga Kerajaan antara lain :

1.Bone, yaitu : “La Tenrirawe Bongkangnge, Lamellong yang digelar Kajao Laliddong dan pembesar-pembesar   kerajaan Bone lainnya”.
2.Soppeng, yaitu : “La Mappaleppe Pong Lipue, Datu Soppeng, Arung Bila, Arung Pangepae, dan Arung   Paddanrengnge dan pembesar-pembesar kerajaan Soppeng lainnya”.
3.Wajo, yaitu: La Mungkace Touddamang Arung Matowa, Pillae, Cakkuridie, Pattolae, dan pembesar-pembesar   kerajaan Wajo lainnya.

Perjanjian Tellumpoccoe Dalam Bahasa Bugis (Lontara')
 
Ketiganya mengucapkan ikrar yang berbunyi :

1.Malilu sipakainge’, Rebba sipatokkong, Siappidapireng riperi nyameng.
2.Tessibaiccukeng, Tessiccinnaiyyang ulaweng matasa, Pattola malampe, Waramparang maega pada mellebbang   ri saliweng temmallebbang ri laleng.
3.Teppettu-pettu siranreng sama-samapi mappettu, Tennawa –nawa tomate jancitta, Tennalariang anging ri    saliweng bitara, Natajeng tencajie, Iya teya ripakainge’ iya riduai, Mau maruttung langie, Mawoto       paratiwie, Temmalukka akkulu adangetta, Natettongi dewata seuwae.
4.Sirekkokeng tedong mawatang, Sirettoang panni, Sipolowang poppa, Silasekeng tedong siteppekeng tanru    tedong.
5.Tessiottong waramparang, Tessipalattu ana' parakeana.

Perjanjian Tellumpoccoe Dalam Bahasa Indonesia
Terjemahan Bebas

1.Memperingati bagi mereka yang tidak mentaati kesepakatan, saling mengakkan jika ada yang tersungkur     dan saling membantu dalam suka duka.
2.Tidak akan saling mengecilkan peran, tidak akan saling menginginkan perebutan takhta dan penggantian    putera mahkota dan tidak saling mencampuri urusan dalam negeri.
3.Tidak akan putus satu-satu melainkan semua harus putus, perjanjian ini tidak akan batal kerena kita     mati dan tidak akan lenyap karena dihanyutkan angin keluar langit, mustahil terjadi. Siapa yang tidak   mau diperingati dialah yang harus diserang kita berdua. Walaupun langit runtuh dan bumi terbang.     Perjanjian ini tidak akan batal dan disaksikan oleh Tuhan Yang Maha Esa (Dewata Seuwae).
4.Saling menundukkan kerbau yang kuat, saling mematahkan paha, saling mengebirikan kerbau. Artinya     mereka akan saling memberikan bantuan militer untuk menundukkan musuh yang kuat.
5.Tidak akan saling berebutan harta benda dan berlaku bagi generasi penerus.

Demikian catatan yang menjelaskan TellumpoccoE (Bone – Soppeng – Wajo) yang terkandung dalam perjanjian yang diadakan oleh La Tenri Rawe BongkangE (Bone), La Mappaleppe (Soppeng) dan To Uddamang (Wajo).

Pertemuan tiga kerajaan yang lebih dikenal dengan nama Pertemuan TellumpoccoE tersebut diadakan di Timurung di suatu kampung kecil yang bernama Bunne. Dalam pertemuan tersebut sebelum mereka mallamung patu (menenggelamkan batu) sebagai tanda sahnya perjanjian maka terjadi sebuah percakapan antara La Tenrirawe Bongkangnge Arumpone,  La Mungkace Arung Matowa Wajo dan La Mappaleppe Datu Soppeng.

Adapun bunyi percakapannya sebagai berikut :

Arung Matowa Wajo bertanya kepada Arumpone :
 ”Bagaimana mungkin Arumpone, untuk kita hubungkan tanah kita bertiga, sementara Wajo adalah kekuasaan Gowa. Kemudian kita tahu bahwa antara Bone dengan Gowa juga memiliki hubungan yang kuat ?”.
Arumpone menjawab :
 ”Itu pertanyaan yang bagus Arung Matowa. Tetapi yang menjalin hubungan disini adalah Bone, Soppeng, dan Wajo. Selanjutnya Bone menjalin hubungan dengan Gowa. Kalau Gowa masih mau menguasai Wajo, maka kita bertiga melawannya”.

Pernyataan Arumpone tersebut diiyakan oleh Arung Matowa Wajo. Berkata pula La Mappaleppe PollipuE Datu Soppeng :
 ”Bagus sekali pendapatmu Arumpone, tanah kita bertiga bersaudara. Tetapi saya minta agar tanah Soppeng adalah pusaka tanah Bone dan Wajo. Sebab yang namanya bersaudara, berarti sejajar”.
Arumpone menjawab :
 ”Bagaimana pendapatmu Arung Matowa, sebab menurutku apa yang dikatakan oleh Lamappaleppe PollipuE Datu Soppeng adalah benar ?”.
 Arung Matowa Wajo menjawab:
 ”Saya kira tanah kita bertiga akan rusak apabila ada yang namanya – sipoana’ (ada yang menganggap dirinya tua dan ada yang muda).”
 Berkata lagi Arumpone:
 ”Saya setuju dengan itu, tetapi tidak apalah saya berikan kepada Soppeng Gowa-gowa dan sekitarnya untuk penambah daki, agar tanah kita bertiga tetap bersaudara”.
 Berkata pula Arung Matowa Wajo:
 ”Bagus pendapatmu Arumpone, saya juga akan memberikan Soppeng penambah daki yaitu Baringeng, Lompulle dan sekitarnya”. Maka mulai pada saat itu wilayah gowa-gowa (kec. Lilirilau), Baringeng, dan Lompulle telah menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Soppeng.
 Datu Soppeng dan Tau TongengngE berkata:
 ”Terima kasih atas maksud baikmu itu, karena tanah kita bertiga telah bersaudara, tidak saling menjerumuskan kepada hal yang tidak dikehendaki, kita bekerja sama dalam hal yang kita sama kehendaki”.
Berkata Arumpone dan Arung Matowa Wajo:
 ”Kita bertiga telah sepakat, maka baiklah kita bertiga meneggelamkan batu, disaksikan oleh Dewata SeuwaE, siapa yang mengingkari perjanjiannya dialah yang ditindis oleh batu itu”.
 Berkatalah Arung MatowaE ri Wajo kepada Kajao Laliddong sebagai orang pintarnya Bone :
 ”Janganlah dulu menanam itu batu, Kajao! Sebab saya masih ada yang akan kukatakan bahwa persaudaraan TellumpoccoE tidak akan saling menjatuhkan, tidak saling berupaya kepada hal-hal yang buruk, janganlah kita mengingkari perjanjian, siapa yang tidak mau diingatkan, dialah yang kita serang bersama (diduai), dia yang kita tundukkan”.

Pernyataan Arung MatowaE tersebut disetujui oleh Arumpone dan Datu Soppeng. Setelah itu barulah ketiganya mellamumpatu (menenggelamkan batu)  sebagai tanda sahnya perjanjian yang disaksikan oleh Dewata Seuwae.

Situs perjanjian yang menyerupai anglo tersebut adalah batu besar (Bone) yang menandakan Bone sebagai saudara tua, kemudian yang agak kecil (Wajo) sebagai saudara tengah dan yang paling kecil (Soppeng) sebagai saudara bungsu.
             Dan sejak itulah istilah “Mallamungeng Patue ri Timurung” dikenal dengan persekutuan tiga kerajaan besar Tellumpoccoe atau yang lebih dikenal sekarang dengan nama “BOSOWA”.
             Memberikan pengetahuan kepada generasi muda tentang betapa besarnya nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan oleh pendahulu kita. Sejarah memang masa lalu tetapi dengan Sejarah kita akan tahu JATI DIRI kita  yang sebenarnya. Melupakan sejarah leluhur sama halnya mengubur jatidiri. Tegakah? teluk bone
 

SD Athirah Bukit Baruga Gelar Tadabbur Alam di Pesantren Athirah Bone

BERITA BONE.WATAMPONE - Sekolah Dasar (SD) Islam Athirah Bukit Baruga, Makassar gelar Tadabbur Alam dengan mengangkat tema " Disiplin Mandiri Lakuku, Cinta Lingkungan Sikapku, Sukses Bahagia Hidupku." di Pesantren Athirah Bone, Jl.S.Musi, Kelurahan Panyula, Sabtu (4/5).

Kegiatan yang dilakukan para murid dari Sekolah Dasar (SD) Islam Athirah Bukit baruga Makassar tersebut bertujuan untuk menciptakan kemandirian, pengenalan disiplin lingkungan pesantren, dan memberikan pembelajaran tentang kepedulian lingkungan bagi seluruh peserta.
Hal tersebut dijelaskan, Wakil Kepala sekolah Islam Athirah bagian Kesiswaan, Syamsul Bahri, S.Pdi saat ditemui wartawan.

"Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari yang dimulai dari hari jumat sampai dengan hari minggu (3-5 mei) yang diikuti 85 orang siswa dari SD Islam Athirah Bukit baruga Makassar, dan didampingi sepuluh orang pendamping," jelasnya.

Ditempat yang sama ketua panitia Tadabbur alam SD Islam Athirah bukit baruga Makassar, Imelda, S.Pd mengatakan bahwa peserta  akan mengikuti beberapa kegiatan selama dua hari dilokasi pesantren Athirah Bone. Para peserta disibukkan dengan kegiatan penanaman pohon di area belakang gedung sekolah yang merupakan bentuk kepedulian lingkungan, pementasan Seni, Out bond, serta beberapa kegiatan lainnya.

"Beberapa kegiatan yang akan diikuti para peserta ini diharapkan dapat membangun mental dan karakter kemandirian yang dapat meraka terapkan dalam kehidupan sehari-hari," jelasnya.

Suplai Air Bersih Terganggu

SIDRAP, BERITA BONE -- Suplai air bersih dari PDAM ke pelanggan terganggu sejak dua bulan terakhir ini. Selain tersendat-sendat, air yang sampai ke rumah pelanggan juga keruh.

Sejumlah pelanggan sudah mengadukan masalah ini. Seperti Umar, 40, warga Pangkajene ini mengaku gangguan suplai air bersih ini berdampak pada aktivitas keluarganya setiap hari. "Ini sudah dua bulan tapi belum ada perkembangan," keluh Umar.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur PDAM Sidrap, M Slamet mengakui adanya masalah dalam suplai air. Itu terjadi akibat adanya pipa induk milik PDAM yang bocor.  "Sepanjang Amparita hingga Massepe saat ini bocor," ujar Slamet, Senin 22 April.

Kebocoran pipa induk itu memang sangat berdampak pada kelancaran suplai air. Sebab air yang seharusnya berada dalam pipa menuju rumah-rumah pelanggan justru keluar di titik-titik kebocoran. Dampaknya, air yang sampai ke rumah pelanggan pun menjadi berkurang. "Ini yang sementara kita lacak di mana saja kebocoran-kebocoran itu untuk selanjutnya dibenahi," katanya fajar

Warga Maros Akan Nikmati Air Lekopancing

ilustrasi
MAROS, BERITA BONE -- Dalam waktu dekat masyarakat Kabupaten Maros akan menikmati pemanfaatan air bendungan Lekopancing di Kecamatan Tanralili setelah selama ini dinikmati masyarakat Kota Makassar. Itu diungkapkan oleh Bupati Maros, HM Hatta Rahman, Minggu 5 Mei kemarin.

Dia mengatakan pemerintah pusat telah menyetujui pengalihan air bendungan Lekopancing untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Maros dan masyarakat Maros. Sehingga dengan pemanfaatan bendungan Lekopancing, kata dia, cadangan air bersih Maros sudah cukup.

"Dari Lekopancing bisa menutupi kebutuhan air di Maros dan untuk pertanian masyarakat Tanralili dan sekitarnya tapi memang proses pengalihan bendungan Lekopancing ini memakan waktu antara satu sampai dua tahun," jelas Hatta.

Lamanya proses pengalihan ini, kata dia, karena PDAM kota Makassar diberi kesempatan untuk mengambil air dari bendungan Bilibili.

"Kalau Makassar telah siap Maros baru bisa memanfaatkan secara penuh bendungan Lekopancing untuk kebutuhan masyarakat Maros," katanya.

Terkait ganti rugi dari Pemkab Maros ke Pemkot Makassar, dia mengatakan  tidak ada ganti rugi karena itu milik pemerintah pusat. Apalagi selama ini, Pendapatan Asli Daerah dari bendungan Lekopancing hanya Rp12 juta per tahun dan pemanfaatan Lekopancing oleh PDAM Makassar telah berlangsung sejak.

"Dari Lekopancing bisa menutupi kebutuhan air di Maros dan untuk pertanian masyarakat Tanralili dan sekitarnya tapi memang proses pengalihan bendungan Lekopancing ini memakan waktu antara satu sampai dua tahun," jelas Hatta.

Terpisah, Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Maros, Abdul Baddar mengatakan dalam waktu dekat empat daerah mamminasata seperti Makassar, Maros, Gowa dan Takalar akan melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU)Pengelolaan Air Baku Mamminasata.

Dia mengatakan dengan ditandatanganinya MoU tersebut praktis pemanfaatan Bendungan Lekopancing yang berada di Kecamatan Tanralili bisa dinikmati oleh Masyarakat Kabupaten Maros fajar

LSM LPKSM BONE


Yang Muda yang Korupsi


Cnto Iklan ....


Pesa Sekarang


Contoh iklan


Tidak Pakai Helm, Polisi Pukul Pemuda




ENREKANG, BERITA -- Salah seorang pemuda di Enrekang, Bagas terpaksa harus dilarikan ke RSU Massenrempulu, Sabtu, 4 Mei sekira pukul 23.30. Bagas terkena hantaman dam tendangan dari salah saorang oknum anggota Polres Enrekang.

Belum ditahu pasti apa penyebab, sehingga anak dari Asisten I Enrekang, Imram Bidohang ini mendapat perlakuan kasar. Namun bermula dari kejadian ini, sempat terjadi ketegangan antara pemuda dengan anggota Polres.

Rian, salah seorang teman Bagas menceritakan. Malam itu, Bagas melintas di kota Enrekang dan saat itu ada sweiping yang digelar Satlantas Polres Enrekang. Waktu itu, Bagas yang berboncengan dengan temannya memang tidak menggunakan helm. Entah apa yang tejadi, Bagas seketika dipukul oleh Oknum polisi yang masih dirahasiakan identitasnya tersebut